Modul IV Bahasa Indonesia 2012

KEPUSTAKAAN

 

A. Pemilihan Pustaka

Penyusunan skripsi atau karya ilmiah lain, seyogianya digunakan sumber acuan primer, seperti jurnal, monograf, dan tulisan asli di bidangnya. Lebih baik lagi jika acuan tersebut berasal dari orang-orang yang memang ahli. Hindari tulisan-tulisan ulasan umum, seperti buku ajar, diktat, buku teks kuliah/buku daras, atau pedoman praktikum. Sekalipun yang dilakukan adalah penelitian lapangan, sumber acuan yang berasal dari para ahli di bidang yang diteliti tetap diperlukan untuk membantu penyusunan hipotesis, mengkonstruk teori, mengembangkan gagasan baru ataupun memperkuat argumentasi.  Selain dari sumber-sumber tertulis, acuan juga dapat diambil dari sumber elektronis atau internet.

Perlu diingat bahwa pilihan terhadap sumber acuan menggambarkan pula kesungguhan dan kemampuan penulis. Hal ini pada akhirnya juga menentukan kualitas karya ilmiah yang ditulisnya. Oleh karena itu, selain memperhatikan keahlian pengarang sumber acuan hendaknya diperhatikan pula hal-hal berikut.

  1. Tingkat ke-pioneer-an pengarangnya dari sisi penggagas atau pengguna teori. Harus dibedakan antara pengarang yang merupakan penemu awal dan pengarang sebagai pengembang teori atau gagasan, serta pengarang yang hanya sebagai “pendulang”.
  2. Muatan sumber acuannya dilihat dari perspektif kesamaan atau perbedaan aliran pemikiran atau teori yang diterapkan atau dibahas di dalamnya.
  3. Akurasi data dan kebaruan informasinya yang termuat  di dalam sumber acuan.

Satu ketentuan umum yang harus ditaati dalam menggunakan informasi atau data dari sumber-sumber acuan tadi ialah mentaati ketentuan-ketentuan pengutipan (referencing). Ketentuan pengutipan tersebut berguna untuk memudahkan orang lain menelusuri asal data atau informasi yang dikutip. Hal itu juga merupakan penghargaan  sekaligus menghindari plagiarisme.

 

B. Pengutipan

1. Teknik Pengutipan

Selama ini dikenal ada dua teknik mengutip, yakni langsung dan tak langsung.

  1. a.    Kutipan Langsung

Kutipan  langsung adalah kutipan yang ditulis sama persis dengan sumber asli, baik dalam hal penulisan kata, susunan kata, ejaan, maupun pungtuasinya.

 

 

1)    Kutipan kurang dari empat baris

Kutipan langsung yang kurang dari empat baris ditempatkan di dalam teks di antara tanda petik dengan jarak yang sama dengan jarak baris di dalam teks, yaitu dua spasi. Perhatikan contoh berikut.

……………………………………………………………………………………………………………………………………. .Agus mengatakan, “Perlu dikembangkan sikap apresiatif dan aspiratif terhadap pengetahuan-pengetahuan tandingan yang dimiliki dan dipegang teguh kaum miskin yang terlibat dalam akar penjarahan” (Sudibyo, 2001: 184). ………………………………………………………………………

 

Pengaruh sastra di dalam kehidupan  manusia terlihat di dalam pernyataan William (1977: 2), “The analogy between women and the earth as sources of life has always inspired the myths and poems of men”.

 

2) Kutipan lebih dari empat baris

Kutipan langsung panjang yang terdiri atas empat baris atau lebih, ditempatkan di bawah baris terakhir teks yang didahuluinya. Kutipan itu diketik, tanpa tanda petik, spasi satu, dan menjorok masuk lima ketukan dari margin kiri.

………………………………………………………………………………………….. sebagaimana yang telah diungkapkan oleh Sudibyo berikut.Perlu dikembangkan sikap apresiatif dan aspiratif terhadap pengetahuan-pengetahuan tandingan yang dimiliki dan dipegang teguh kaum miskin yang terlibat dalam akar penjarahan. Pengetahuan yang tercermin dari kepolosan, kesahajaan, dan kenaifan petani miskin yang lebih menghagai jagung dan padi daripada kakao. Pengetahuan yang tersirat dari kekerasan hati petani bahwa secara historis mereka berhak atas tanah lahan yang saat ini menjadi perkebunan di sekitar tempat tinggalnya (Sudibyo, 2001: 184).

 

Sedangkan hakikat sosiologi sastra menurut Laurenson and Swingewood  adalah sebagai berikut.Sociology is essentially the scientific, objective study of man in society, the study of social institutions and of social processes; it seeks to answer the question of how society is possible, how it works, why it persists. Through a rigorous examination of the social institutions, religious, economic, political, and familial, which together constitate what is called social structure,… (1972: 11).

Namun, perlu diingat bahwa terlalu banyak menggunakan kutipan langsung dapat menimbulkan kesan bahwa penulis kurang menguasai atau tidak dapat mencerna bahan pustaka yang dikutip.

 

 

  1. b.    Kutipan Tak Langsung

Kutipan tak langsung adalah kutipan yang menyangkut gagasannya saja yang kemudian diungkapkan dengan kata-kata dan gaya pengutip sendiri (parafhrase). Simaklah contoh berikut.

Lawrence (1972: 1) memberikan batasan menulis sebagai kegiatan mengkomunikasikan apa dan bagaimana pikiran penulis. Menulis pada hakikatnya adalah melukiskan lambang-lambang grafis yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami seseorang untuk dibaca orang lain yang dapat memahami bahasa dan lambang-lambang grafis tersebut. …………………………………………………………………………………

 

2. Pengacuan Pustaka

Ketentuan dalam pengutipan adalah kewajiban mencantumkan atau menyebutkan sumber ketika seorang pengarang atau penulis mengambil informasi atau data orang lain. Informasi atau data itu dapat berupa penulisan secara lengkap apa adanya dari sumber (kutipan langsung) atau secara parafrasa, diolah menggunakan bahasa pengarang sendiri (kutipan tidak langsung). Adapun pencantuman sumber secara umum dapat dilakukan dengan sistem Nomor (Vancouver System) atau sistem Nama–Tahun (Harvard System). Keduanya berlaku di IAIN Syekh Nurjati.

Kutipan langsung maupun kutipan tak langsung dipertanggungjawabkan dengan pencantuman pengacuan pustakanya. Hal ini dikenal dengan istilah “catatan pustaka”, yaitu catatan yang menjelaskan sumber informasi yang digunakan. Sumber informasi itu dapat berupa buku, majalah, jurnal, atau surat kabar yang diterbitkan secara resmi. Catatan pustaka yang digunakan berupa foot note dengan sistem Nomor (Havard System), yaitu dengan mencantumkan nomor secara berurutan sesuai dengan nomor yang tertera dalam teks atau bagian yang dikutip. Sistem Nomor dengan teknik foot note ini mengenal beberapa singkatan, yaitu: ibid, op.cit, dan loc.cit. Ibid singkatan kata latin ibidem berarti dikutip pada tempat yang sama. Op.cit singkatan opera citato berarti karya yang telah dikutip lebih dahulu. Loc.cit singkatan loco citato berarti pada tempat yang dikutip.

Penulisan catatan pustaka dengan teknik foot note (catatan kaki) ditempatkan tiga spasi di bawah naskah sampai pada garis naskah di bagian bawah. Catatan kaki itu diketik satu spasi dan dimulai pada ketukan keenam. Catatan kaki diberi nomor sesuai dengan urutan penempatannya dengan menggunakan angka Arab secara berurutan dari bab pendahuluan sampai bab terakhir. Penulisan catatan pustaka dibedakan berdasarkan sumber yang dikutip.

 

 

3. Sumber Rujukan Berupa Buku

Teknik penulisan catatan pustaka yang digunakan adalah dengan menuliskan secara berurutan: nama pengarang, koma, judul buku, koma, kurung buka, tempat penerbit, titik dua, nama penerbit, koma, tahun terbit, kurung tutup, koma, nomor cetakan, koma, jilid, nomor halaman.

Contoh:

1M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), cetakan ke 1, jilid 1, hlm. 37.

 

Apabila pengarang terdiri dari dua orang maka harus dicantumkan keduanya.

Contoh:

1Fakhri Ali dan Bahtiar Effendi, Merambah Jalan Baru Islam, (Bandung: Mizan, 1994), cetakan ke 1, hlm. 87.

 

Apabila pengarang lebih dari dua orang, hanya dicantumkan nama pengarang yang pertama, setelah tanda koma dituliskan dkk (dan kawan-kawan).

Contoh:

1Sartono Kartodirjo,et.al. Sejarah Nasional Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1975), jilid IV, hlm.112.

 

Apabila dua buah sumber atau lebih pengarangnya sama, jika kemudian dirujuk lagi sumber ini maka dituliskan nama pengarang yang diikuti judul buku yang dikutip, digunakan istilah op. cit. (dalam bahasa Arab digunakan istilah al-marja’ al-sabiq) atau loc. cit. (dalam bahasa Arab nafs al-makan).

Contoh:

1M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), cetakan ke 1, jilid 1, hlm. 37.2Ibid., hlm. 45.

3Azyumardi Azra, Esei-esei Intelektual Islam (Jakarta: Logos, 2000), cetakan ke 1, hlm. 25.

4Ahmad Amin, Fajr al-Islam, op. cit., hlm. 109.

5Azyumardi Azra, Esei-esei Intelektual Islam, loc. cit.

 

4. Sumber Rujukan Berupa Majalah atau Jurnal

Penulisan catatan pustaka yang bersumber dari majalah pada dasarnya sama dengan kutipan yang berasal dari buku. Perbedaannya, judul artikel ditulis di antara tanda petik, nama majalah ditulis dengan cetak miring, diikuti dengan nomor volume, koma, nomor, kurung buka, bulan, koma, tahun, kurung tutup, koma, dan nomor halaman.

 

Contoh:

2Anik Ghufron, “Pengembangan KBK untuk Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI)”, Lektur, X, 2, (Juli-Desember, 2004), hlm.34.

 

5. Sumber Rujukan Berupa Surat Kabar Cetak atau Elektronik

Apabila kutipan berasal dari surat kabar, catatan kaki hanya menuliskan judul tulisan atau rubrik, nama surat kabar dengan dicetak miring, tempat terbit dalam kurung, tanggal, bulan, dan tahun terbitnya, dan diakhiri dengan nomor halaman yang dikutip.

Contoh:

3Zaenal Abidin, “Memahami Bahasa Politik Kaum Santri: Berkaca dari Pemilu 2004”, Republika (Jakarta), 4 Januari 2004, hlm.4.

 

6.  Sumber Rujukan berupa internet

Diperbolehkan mengambil sumber dari internet, tetapi harus memiliki rumpun ilmiah yang jelas. Artinya, rujukan itu berupa karya ilmiah dan bukan pernyataan bebas. Penulisnya pun harus memiliki otoritas sesuai dengan keilmuannya. Misalnya yang beralamat: edu, ac, gov, dan org. Adapun penulisannya meliputi penulis, judul ditulis miring, alamat web, kurung buka waktu penggunduhan kurung tutup.

Contoh:

2Omar Khalidi, Interfaith Youth Core, http://ifyc.org (diunduh 24-11-2011, 10:00 WIB).

 

7. Sumber Rujukan Berupa Tulisan yang Tidak Diterbitkan

Karangan yang tidak diterbitkan dapat berupa skripsi, tesis, atau disertasi. Cara penulisannya adalah dengan mencantumkan nama penulis, judul tulisan (judul skripsi, tesis, disertasi) ditulis di antara tanda petik, disebutkan skripsi, tesis, atau disertasi, kurung buka, nama tempat penyimpan dokumentasi, titik dua, tahun penulisan, kurung tutup, halaman, dan keterangan tidak diterbitkan.

Contoh:

1Ahmad Burhan, “Kompilasi Hukum Islam dalam Sorotan: Respon Ulama terhadap Materi KHI”, Skripsi Sarjana Hukum Islam, (Jakarta: UIN, 1999), hlm.34, tidak diterbitkan.

Adakalanya pengarang atau penulis memandang perlu untuk memberikan catatan tambahan yang berisi komentar atau penjelasan yang dianggap tidak tepat untuk dimasukkan di dalam naskah. Pada keadaan seperti itu, penulis dapat mengusahakan menambahkannya di belakang atau di depan foot note kutipan.

 

 

 

C. Penulisan Daftar Pustaka

Pada bagian akhir karya ilmiah terdapat daftar pustaka yang disusun berdasarkan sistem pengacuan pustaka tertentu. Daftar Pustaka pada sistem Nama-Tahun berbeda dengan daftar pustaka pada sistem Nomor. Pada sistem Nama-Tahun pustaka disusun berdasarkan urutan abjad nama pengarang, sedangkan pada sistem Nomor pustaka disusun berdasarkan urutan pemunculannya dalam tubuh tulisan. Namun demikian, pada pedoman ini, kedua sistem disamakan. Pengurutannya berdasarkan urutan abjad nama pengarang.

Selain itu, pedoman ini menggariskan hanya pustaka yang diacu dalam tubuh tulisan saja yang boleh dicantumkan dalam daftar pustaka. Dengan kata lain, pustaka yang tercantum dalam daftar pustaka harus ada dalam tubuh tulisan. Penulisan pustaka dalam daftar pustaka perlu memperhatikan urutan unsur-unsur yang diperlukan dan cara penulisan dan pemisahan antarunsur tersebut. Secara umum unsur-unsur yang diperlukan itu adalah sebagai berikut.

1. Buku

a. Nama pengarang

1)  Nama pengarang ditulis lengkap, tetapi gelar kesarjanaan tidak dicantumkan.

2)  Penulisannya dengan menyebutkan nama akhir lebih dahulu, baru nama pertama dipisahkan dengan koma.

Contoh : Rahmat, Jalaludin

Macdonell, Arthur Anthony.

3) Penulisan nama pengarang Tionghoa tidak perlu dibalik. Hal ini karena unsur nama yang pertama merupakan nama famili.

Contoh :       Tan Sie Gie

Lie Tie Gwan

4)  Jika di dalam buku yang diacu itu nama yang tercantum nama editor, penulisannya dilakukan dengan menambahkan singkatan (Ed.) di belakang nama.

Contoh : Azra, Azyumardi (Ed.).

5)  Jika pengarang terdiri dari dua orang, nama keduanya ditulis semua. Pengarang pertama ditulis sesuai dengan ketentuan butir 1), 2), dan 3), sedangkan nama pengarang kedua dituliskan menurut urutan biasa. Di antara kedua nama pengarang itu digunakan kata penghubung dan (tidak digarisbawahi).

Contoh : Rahmat, Jalaluddin dan Usman Said.

6)  Jika pengarangnya tiga orang atau lebih, cukup dituliskan nama pengarang yang pertama lalu ditambahkan singkatan dkk. (bentuk lengkapnya adalah dan kawan-kawan) yang tidak digarisbawahi.

Contoh : Nasution, Harun dkk.

7)  Jika beberapa buku yang diacu itu ditulis oleh seorang pengarang yang sama, nama pengarang cukup ditulis sekali untuk selanjutnya dibuat garis sepanjang sepuluh ketukan yang diakhiri dengan tanda titik.

Contoh :       Shihab, M. Quraish. 1982a.

—————. 1982b.

b.Tahun Terbit

1) Tahun terbit dituliskan sesudah nama pengarang dan dibubuhkan tanda titik sesudah tahun terbit.

Contoh :       Rahmat, Jalaluddin (Ed.). 1989.

Abdullah, Amin dan A. Munir Mulkhan. 1999.

2) Jika beberapa buku ditulis oleh seorang pengarang dan diterbitkan di tahun yang sama, maka penempatan urutannya didasarkan pada urutan abjad judul bukunya. Kriteria pembedaannya adalah tahun terbit, yaitu dibubuhkan huruf a, b, dan c sesudah tahun terbit, tanpa jarak.

Contoh :       Nasution, Harun. 1982a.

—————. 1982b.

3). Jika beberapa buku yang dijadikan bahan pustaka itu ditulis oleh seorang pengarang, tetapi tahun terbitnya berbeda, penyusunan daftar pustaka dilakaukan dengan urutan berdasarkan umur terbitan (dari yang paling lama sampai yang paling baru).

Contoh :       Koentjaraningrat. 1956.

————— .1967.

————— .1984.

4). Jika buku yang dijadikan bahan pustaka itu tidak menyebutkan tahun terbitnya, di dalam penyusunan daftar pustaka disebut tanpa tahun. Kedua kata ini diawali dengan huruf kapital dan tidak digarisbawahi.

Contoh :       Syalabi, Ahmad. Tanpa Tahun.

Baiquni, Ahmad. Tanpa Tahun.

c. Judul Buku

1) Judul buku ditempatkan sesudah tahun terbit dan diberi garis bawah tiap-tiap katanya atau diketik miring dengan komputer. Di belakang judul ditempatkan tanda titik.

Contoh :

Koentjaraningrat (Ed). 1990. Metode-Metode Penelitian Masyarakat.

Schimmel, Ann Emarie. 1986. Dimensi Mistik dalam Islam (Terjemahan).

2) Penulisan laporan penelitian, disertasi, tesis, skripsi, atau artikel yang belum diterbitkan dengan diawali dan diakhiri tanda petik.

Contoh :

Baidlawi, Ahmad. 2004. “Konsepsi Perbankan Syariah”.

Sukidi. 1997. “Titik Temu Agama-Agama: Studi Terhadap Pemikiran Teologi Inklusif Cak Nur”.

3) Penulisan judul artikel yang dimuat di dalam buku antologi (kumpulan karangan), surat kabar, atau majalah dilakukan seperti pada butir 2) di atas.

Contoh :

Effendi, Bachtiar. 1997. “Islam dan Negara: Polemik Natsir dengan Soekarno”.

Ali, Hasan. 1977. “Pengembangan Koperasi Pedesaan”.

4) Unsur-unsur keterangan, seperti jilid dan edisi, ditempatkan sesudah judul.

Contoh :

Kuntowijoyo. 1990. Metodologi Sejarah. Cetakan Kedua.

Jika sumber acuan merupakan karya terjemahan, hal itu dinyatakan seperti contoh berikut.

Contoh :

Schimmel, Anemarie. 1986. Dimensi Mistik dalam Islam. Terjemahan oleh Supardi Djoko Darmono dkk. dari The Mystical Dimension of Islam (1975).

 

Jika sumber acuan itu berbahasa asing, unsur-unsur keterangan di Indonesiakan, seperti edition menjadi edisi, volume menjadi jilid, seperti di bawah ini.

Contoh :

Hodgson, Marshall G. 1978. The Venture of Islam. Edisi Kedua.

Lapidus, Ira M. 1996. The Social History of Islam. Edisi Pertama. Jilid Kedua.

 

d. Edisi

Keterangan tentang edisi ditempatkan setelah judul buku dan dituliskan misalnya “Ed ke-2”. Walaupun dalam buku aslinya tidak tercantum angka edisi melainkan dibunyikan seperti “Fourth Edition”, dalam penulisannya akan diubah menjadi angka sehingga menjadi “Ed ke-4”. Sedangkan jika dalam buku telah tercantum “Edisi Pertama” padahal edisi berikutnya belum terbit, maka edisi tidak perlu dituliskan.

 

e. Tempat Terbit dan Nama Penerbit

1) Tempat terbit sumber acuan, baik buku maupun terbitan lainnya, ditempatkan sesudah judul atau keterangan judul (misalnya edisi, jilid). Sesudah tempat terbit dituliskan nama penerbit dengan dipisahkan oleh tanda titik dua dari tempat terbit dengan jarak satu ketukan.

Contoh :

Koentjaraningrat (Ed). 1976. Metode-Metode Penelitian Masyarakat. Jakarta: Gramedia.William, Juanita H. 1977. Psychologi of Women. New York: W.W. Norton.

2) Sesudah penyebutan nama penerbit ditempatkan tanda titik.

3) Jika lembaga penerbit dijadikan pengarang (ditempatkan pada jalur pertama), tidak perlu disebutkan nama penerbit lagi.

Contoh :

Biro Pusat Statistik. 1963. Statistical Pocketbook of Indonesia. Jakarta.

 

2. Majalah atau Jurnal

  1. Nama majalah atau jurnal ditulis miring (italic) atau garis bawahi perkata, didahului kata dalam.
  2. Judul artikel ditulis sama dengan judul pada publikasi asli. Penulisannya ditempatkan di antara tanda petik.
  3. Tahun terbitan ditulis dengan jarak satu ketukan tanpa dipisahkan dengan tanda baca apapun dari nama majalah. Keterangan tahun terbitan dinyatakan dengan angka Romawi.
  4. Nomor majalah ditempatkan di dalam kurung dan ditulis dengan angka Arab dengan jarak satu ketukan dari tahun terbitan.
  5. Volume dan Halaman ditulis dengan angka Arab setelah nama jurnal dan dipisahkan dengan spasi. Nomor Volume yang ditulis menggunakan angka romawi diubah menjadi angka Arab. Misalnya Volume XXI diubah menjadi  21. Setelah nomor volume langsung diberi titik dua dan dituliskan nomor halaman tanpa spasi.
  6. Tempat terbit merupakan keterangan terakhir tentang majalah sebagai sumber acuan. Sesudah penyebutan tempat terbit diletakkan tanda titik.

Selanjutnya, panduan umum penulisan pustaka dalam daftar pustaka dapat digambarkan sebagai berikut.

  1. 1.    Buku

Nama pengarang (editor) dibalik. tahun terbit, Judul buku. Tempat terbit: Nama penerbit.

  1. 2.    Majalah dan Jurnal
  2. 3.    Skripsi, Tesis, dan Disertasi
  3. 4.    Bibliografi
  4. 5.    Surat Kabar

Nama pengarang dibalik. Tahun terbit. Judul artikel. Nama jurnal/ majalah. Nomor volume (nomor terbitan): halaman.

Nama pengarang dibalik. Tahun terbit. Judul. (jenis publikasi). Tempat institusi: Nama institusi tempat tersedianya karya ilmiah tersebut.

Nama pengarang dibalik. Tahun terbit. Judul. Jenis publikasi. Tempat terbit: Nama penerbit.

Nama pengarang dibalik. Tanggal bulan tahun terbit. Judul. Nama surat kabar: Nomor halaman (nomor kolom).

 

  1. 6.    Artikel dan Publikasi Internet

Nama pengarang dibalik. Tahun penerbitan. Judul artikel. Nama jurnal. Volume  (nomor): Halaman (tipe media). Ketersediaan (Tanggal, bulan, dan tahun akses).