Program Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon memberi kesempatan kepada para calon mahasiswa baru untuk mempelajari bidang ilmu, antara lain:

1. Pendididkan Islam (PI)
2. Psikologi Pendidikan Islam (PPI)
3. Manajemen Pendidikan Islam (MPI)
4. Ekonomi Syariah (Ekos)
5. Hukum Perdata Islam (Ahwal al-Syakhshiyyah)
 

Selamat datang Calon Mahasiswa Baru yang Budiman. Dengan segala kerendahan hati, kami menyambut Saudara yang memiliki semangat dan cita-cita tinggi untuk selangkah lebih maju dalam meningkatkan keilmuan Islam setingkat magister (s2). Brosur pendaftaran bisa download di sini

Karya tulis ilmiah harus didasarkan atas konsep yang jelas tentang apa yang disebut “ilmiah”. Sesuatu disebut “ilmiah” bila sesuai dengan kaidah-kaidah keilmuan. Istilah “ilmu” berasal dari Bahasa Arab “‘ilmu”. Dalam bahasa Inggris dikenal paling tidak dua kata yang berhubungan dengan ‘ilmu, yaitu knowledge dan science. Bahasa Indonesia mengenal beberapa istilah yang berkaitan dengan ‘ilmu: ilmu, pengetahuan, ilmu pengetahuan, dan sain atau sains.

Jujun (1984:291-299) dalam bukunya yang berjudul Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar, mengemukakan dua pilihan untuk menerjemahkan knowledge dan science ke dalam Bahasa Indonesia, yaitu “ilmu” untuk knowledge, dan “ilmu pengetahuan” untuk science. Namun menurutnya, terjemahan ini memiliki kelemahan terutama berkaitan dengan konsistensi penerjemahan kata-kata turunannya. Karena itu, ia mengusulkan penerjemahan science menjadi “ilmu”, dan knowledge menjadi “pengetahuan”.

Menurut Al-Attas (1995: 21) dalam bukunya yang berjudul Islam & Filsafat Sains, secara semantik, knowledge lebih tepat diterjemahkan menjadi “ilmu”, mengingat kata knowledge ini diturunkan dari ‘ilmu, sebagai istilah generik dalam Bahasa Arab, yang memiliki nuansa makna yang serupa dengan knowledge,  dan selalu diterjemahkan menjadi knowledge.

Sementara science yang merupakan spesies ilmu mesti diterjemahkan menjadi “ilmu pengetahuan”, karena pengetahuan memang merupakan semacam spesies dari ilmu. Karena itu, Al-Attas menerjemahkan kata science menjadi “sains”, dan knowledge menjadi “ilmu”, atau “pengetahuan”, atau “ilmu pengetahuan”, atau  “pengenalan”, tergantung konteksnya.

Berdasarkan metode pencapaiannya, ilmu memiliki beberapa aspek, atau dapat dipandang sebagai suatu genus yang memiliki beberapa spesies. Salah satunya adalah ilmu pengetahuan, yaitu ilmu yang berurusan dengan objek-objek yang dapat diketahui. Objek “tahu” adalah segala sesuatu dalam alam lahiriah yang ada di sekitar kita.

Selain “tahu”, ada dimensi lain dari ‘ilmu, yaitu “kenal”, yang lebih intens dan dalam dibanding “tahu”. Makna “kenal” lebih mendalam dibanding dengan “tahu”. “Kenal”, sebagaimana digunakan untuk menggambarkan hubungan pribadi antara dua orang, menunjukkan hubungan yang akrab antara yang mengenal dan yang dikenal; dan ilmu tentang pihak yang terakhir “diberikan” kepada pihak pertama berdasarkan kepercayaan, setelah melalui proses panjang pihak pertama itu untuk memupuk kepercayaan tersebut.

Dalam khazanah Islam, ilmu jenis ini disebut ilmu pengenalan atau ma’rifah, yang diturunkan dari kata ‘arafa yang berarti mengenal. Tuhan adalah objek pengenalan, bukan pengetahuan, dan pengenalan Tuhan itu diperoleh melalui pengenalan diri manusia.

Dengan demikian, “ilmu” dalam artinya yang asli diturunkan dari Bahasa Arab ‘ilmu, merupakan istilah generik yang memiliki dua cabang utama, yaitu pengetahuan (dalam arti science dan knowledge), dan pengenalan. Implikasi dari pandangan ini, bahwa penggunaan kata “ilmu” hanya untuk hal-hal yang berkaitan dengan objek-objek inderawi (science), adalah penyempitan makna ilmu. Pembatasan demikian, berimplikasi pada objek-objek yang tidak bisa diketahui, namun dikenali, seperti Tuhan, dikeluarkan dari wilayah ilmu. Implikasi lebih jauhnya, sebagaimana tersirat dari kata “ilmiah” (scientific), maka segala pernyataan yang bukan berasal dari objek-objek inderawi yang bisa diketahui dan dibuktikan secara “ilmiah”, adalah lebih rendah derajatnya.

Pada gilirannya, semua ilmu yang bersumber dari agama (misalnya mengenai kehidupan sesudah mati, atau tentang masalah-masalah moral), yang tidak bisa “dibutktikan” (dalam arti “diketahui”), adalah tidak “ilmiah”, dan karenanya harus ditolak. Penyempitan makna ini mengisyaratkan sedang berlangsungnya proses sekularisasi yang dimulai dari bahasa, yaitu penghapusan makna-makna ruhaniyah dari segala sesuatu (Al-Attas, 1995: 21-23).

Konsep ‘ilmu yang dimaksud dalam pedoman ini adalah sebagaimana yang dianut Al-Attas tersebut, yang mencakup baik pengetahuan maupun pengenalan. Pendidikan Tinggi Islam harus menjadi bagian dari upaya mengembalikan makna “ilmu” sebagaimana aslinya.

Karya tulis ilmiah secara konvensional diartikan sebagai karya tulis yang didasarkan atas metode ilmiah. Metode ilmiah adalah salah satu cara yang ditempuh manusia untuk memperoleh pengetahuan atau kebenaran. Karya ilmiah hakikatnya merupakan aktivitas akademik berdasarkan kepentingan ilmu pengetahuan, karena itu proses penulisan karya ilmiah harus mengikuti norma dan nilai-nilai ilmu pengetahuan dalam rangka memperoleh kebenaran ilmiah dan ilmu pengetahuan baru.

Suatu karya ilmiah harus dapat menghasilkan kebenaran ilmu pengetahuan berdasarkan observasi dan experiment untuk menemukan bukti-bukti teoritik dari sumber literature yang relevan, atau bukti-bukti empirik yang diperoleh dari lapangan penelitian.

Sayyed Hosein Nasr (1998 : 97) menegaskan bahwa suatu “penjelasan ilmiah tentang suatu obyek harus bersandar pada penyelidikan”. Sebab itu karya ilmiah tidak bisa terlepas dari kegiatan penelitian, baik penelitian murni (Pure Research), penelitian terapan (Applied Research), penelitian literature (Library Research) atau penelitian lapangan (Field Research) dan penelitian laboratorium (Laboratory Research).

Dalam tradisi studi Islam, dikenal pula metode tazkiyah al-nafsi. Saat ini semakin banyak penulis yang menunjukkan bahwa metode yang terakhir ini merupakan tahapan puncak dari perolehan pengetahuan, jauh di atas pengetahuan yang bisa diperoleh melalui akumulasi penggunaan metode yang lainnya, karena yang diperolehnya bukan sekedar “pengetahuan”, tetapi juga “pengenalan” atau ma’rifah.

Meskipun metode ilmiah hanyalah salah satu cara yang ditempuh manusia untuk memperoleh pengetahuan, namun kedudukannya sangat penting. Tanpa metode ilmiah itu, pengetahuan manusia tidak mungkin bisa sampai pada tingkat perkembangannya seperti sekarang. Metode ilmiah itu sekarang telah menjadi suatu cabang ilmu pengetahuan yang dikenal dengan metode penelitian. Metode penelitian itulah yang telah  mendorong perkembangan ilmu pengetahuan. Jadi metode ilmiah adalah identik dengan metode penelitian. Penjelasan di atas menunjukkan bahwa, karya tulis ilmiah adalah bagian dari metode penelitian. Karena itu, penulisan karya ilmiah, harus tunduk kepada kaidah-kaidah yang berlaku dalam komunitas keilmuan, agar dapat mengambil bagian dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Realitas tersebut di atas menunjukkan bahwa, penulisan karya ilmiah merupakan bagian dari tradisi masyarakat ilmiah dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan, berdasarkan hasil penelitian ilmiah yang obyektif sesuai kenyataan, metodologik sesuai prosedur penelitian, sistematis berurutan satu sama lain, saling terkait dalam satu system, dan secara filosofis menghasilkan pengethuan yang universal.

Sejalan dengan karakter pengetahuan yang bersifat kumulatif, metode ilmiah pun demikian. Metode trial and error dan metode otoritas, misalnya meskipun kurang menggunakan penalaran, namun sebagai awal lahirnya penelitian dalam kehidupan sehari-hari sampai saat ini masih banyak digunakan sebagai cara untuk memperoleh pengetahuan, bahkan dalam masyarakat ilmiah sekalipun kenyataannya masih berlaku. Keharusan mencantumkan sumber rujukan dalam penulisan karya ilmiah, misalnya, merupakan pengakuan atas otoritas keilmuan sumber yang dirujuknya. Namun dorongan rasa ingin tahu manusia menyebabkannya tidak pernah puas dengan apa yang ada, sehingga berkembang metode logika yang mengandalkan kekuatan penalaran.

Logika adalah salah satu cabang filsafat yang mengkaji tentang cara-cara berfikir manusia untuk sampai kepada suatu kesimpulan yang dianggap sahih atau valid. Untuk memperoleh kesimpulan yang sahih itu digunakan proses berfikir deduktif dan induktif.

Proses berfikir deduktif adalah suatu proses berfikir melalui suatu proposisi yang bergerak dari sesuatu yang umum kepada yang khusus. Sedang proses berfikir induktif bergerak dari yang khusus kepada yang umum. Apa yang disebut metode ilmiah atau metode penelitian pada dasarnya merupakan pengembangan dari metode logika.

Logika deduktif memperoleh kesimpulan melalui penerapan premis-premis sebagai pijakannya, sedangkan logika induktif menggunakan fakta sebagai titik-tolak penarikan kesimpulannya. Keduanya memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing. Keunggulan utama logika deduktif adalah kemampuannya menjangkau objek-objek ideal secara luas, sehingga kesimpulan yang diambilnya itu berdampak luas. Sedangkan kelemahan utamanya adalah, bila premis-premis yang digunakan itu tidak sesuai dengan realitas empirik, maka kesimpulannya akan keliru dan berdampak luas pula.

Adapun kelebihan utama logika induktif adalah apa yang disimpulkannya bersifat objektif, yakni sesuai dengan realitas empirik, tetapi kelemahan utamanya adalah keterbatasan jangkauan objeknya yang berasal dari keterbatasan jangkauan empirik manusia itu sendiri.

Mengingat masing-masing proses berfikir memiliki kelebihan dan kekurangan, maka muncul pemikiran untuk menggabungkan keduanya, yakni mulai dari fakta hasil observasi, lalu ditarik kesimpulan melalui proses berfikir induktif, kemudian diperluas jangkauannya melalui proses berfikir deduktif, dan dapat diuji lagi berdasarkan fakta lain. Proses demikian, disebut proses berfikir sirkuler atau melingkar.  Dengan proses itu, menjadi mungkin untuk memperoleh kesimpulan yang sesuai dengan realitas empirik, namun dapat diuji kembali dan dikembangkan lebih lanjut secara terus menerus. Inilah suatu cara atau metode untuk memperoleh pengetahuan yang sekarang dikenal sebagai metode ilmiah.

Pengetahuan yang diperoleh melalui metode ilmiah itu pun memiliki keterbatasan sebagai akibat dari keterbatasan jangkauan pancaindera dan akal fikiran manusia itu sendiri. Karena itu, selain metode ilmiah terdapat metode filsafat yang mengandalkan imajinasi, kreativitas dan refleksi, suatu dimensi lain dari potensi yang dianugerahkan Sang Pencipta untuk manusia.

Kreativitas, imajinasi, dan refleksi pun ternyata memiliki kelemahan, karena bisa berkembang menjadi liar tidak terkendali, bila hal itu berada di tangan manusia yang kehidupannya dikendalikan oleh yang bukan seharusnya, sehingga hasilnya justru bisa membahayakan kelangsungan peradaban itu sendiri, dan bertentangan dengan apa yang sejatinya dimaksudkan oleh penemuan pengetahuan itu, yakni memelihara dan mengembangkan peradaban secara terus menerus. Dalam konteks inilah antara lain terletak relevansi dan urgensi pengenalan diri, sebagai sarana atau media untuk mengenal Sang Pencipta.

Kenyataan bahwa tugas utama semua Rasul adalah untuk menyempurnakan akhlak mulia, mengisyaratkan bahwa setiap peradaban hakikinya berpusat pada pengembangan akhlak mulia. Dalam hubungan inilah pentingnya metode yang keenam, tazkiyah al-nafs, yang produk akhirnya tidak lain adalah akhlak mulia; semua perolehan pengetahuan manusia pada akhirnya harus bermuara pada penyempurnaan akhlak mulia itu; suatu proses-tanpa-akhir dalam pembentukan kepribadian individu dan masyarakat, dalam rangka peningkatan kesejahteraan serta pengembangan peradabannya.

Tidak ada satu pun peradaban puncak yang bermartabat, yaitu suatu komunitas dengan karakter akhlak yang kuat, dapat dibangun oleh suatu masyarakat yang tidak beradab. Pasang-surut peradaban dalam sejarah Islam, dengan jelas membuktikan hal itu. Oleh karena itu, seluruh upaya pengembangan pengetahuan dalam Islam seharusnya bermuara pada penguatan akhlak mulia. Karena itu pula, tidak ada khilafiyah diantara pemikir pendidikan Islam, bahwa akhlak mulia adalah poros sekaligus ciri khas pendidikan Islam, dan yang menjadikannya sebagai tolok-ukur utama suatu institusi pendidikan berhak dengan label Islam.

Deskripsi di atas bermaksud untuk menggambarkan salah satu aspek penting dari karakteristik esensial Perguruan Tinggi Agama Islam yang menjiwai serta mengarahkan seluruh kegiatannya, termasuk dan terutama dalam kegiatan penelitian/ penulisan karya ilmiah. Dalam kaitan ini dapat ditegaskan, bahwa para ulama dan cendekiawan muslim bersepakat tentang posisi sentral al-Qur’an dalam studi Islam; tidak ada khilafiyah dalam soal ini. Karena itu, pengembangan pengetahuan dalam Islam, mestilah sesuai dengan (dan mengacu pada) prinsip-prinsip yang berfungsi sebagai kerangka dasar pengembangan metodologi pengetahuan dalam al-Qur’an.

Menurut al-Quran: (a) ada dunia nyata yang bebas dari fikiran manusia (Q.S: 51: 20-21; 6: 1); (b) di samping itu, manusia juga disuruh untuk mengkaji alam fisik guna mendekatkan diri kepadaNya melalui tanda-tanda (ayat)-Nya di alam, serta menggunakannya untuk manusia (Q.S: 10:101; 13: 2; 41: 53); (c) alat untuk mengkaji alam itu adalah  pancaindera dan akal (Q.S. 16: 78); (d) manusia belajar melalui observasi dan eksperimen yang didukung oleh pemikiran (Q.S: 7: 179; 22: 46; 29: 30); (e) untuk dapat menangkap ayat-ayat Allah itu manusia dibekali akal, intellect, dan pemikiran, reflection (Q.S. 190: 191); (f) namun al-Qur’an juga mencela orang yang mengira bahwa sumber pengetahuan hanyalah pengamatan pancaindera dan pemikiran melalui observasi dan eksperimen (Q.S. 4: 153); karena ternyata, (g) banyak realita yang tidak dapat dijangkau oleh pancaindera serta pemikiran manusia, dan hanya dianugerahkan kepada siapa saja yang hatinya telah tercerahkan (Q.S. 38: 1-70).

Prinsip-prinsip di atas secara implisit mengungkapkan sumber, jenis, dan metode untuk memperoleh pengetahuan. Konsekwensi logis dari penerimaan seluruh prinsip itu, adalah bahwa dalam perspektif Islam, metode-metode penemuan pengetahuan itu tidak bersifat alternatif atau mutually exclussive, melainkan bersifat gradual-komplementer. Konsekwensi selanjutnya, pegembangan studi Islam akan membutuhkan seluruh sumber, jenis dan metode pengetahuan itu. Karena itulah sejak semula para pemikir Muslim sangat concern terhadap upaya untuk merumuskan perspektif Islam tentang sumber, jenis dan metode pengetahuan sebagai pokok pembahasannya.

Penulisan karya ilmiah adalah bagian dari upaya untuk memelihara dan mengembangkan tradisi dalam studi Islam itu. Dengan menulis karya ilmiah, siapa pun dapat menjadi bagian dari upaya itu sesuai sumbangannya masing-masing.

Edaran Beasiswa S2 Pengawas

Hasil seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru Program Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon Tahun Akademik 2012 – 2013. Download di sini

Pendirian program pascasarjana merupakan obsesi seluruh sivitas akademika Institut Agama Islam Negeri Syekh Nurjati Cirebon, yang sudah tertuang dalam Rencana Induk Pengembangan (RIP) dan Master Plan Institut Agama Islam Negeri Syekh Nurjati Cirebon Tahun 1994/ 1995 – 2018/ 2019, dan mendapat dukungan penuh dari Senat dan segenap sivitas akademika STAIN Cirebon. Dalam rentang waktu yang panjang, berbagai upaya telah dilakukan untuk dapat memenuhi ketentuan-ketentuan yang berlaku bagi pendirian program pascasarjana. Upaya-upaya rintisan telah pula dilakukan, di antaranya dengan mengadakan bimbingan calon mahasiswa program pascasarjana pada tahun 1998-2001, yang diselenggarakan oleh  Panitia Persiapan Pendirian Program Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri Syekh Nurjati Cirebon.

Bersamaan dengan itu, Panitia tersebut melakukan studi kelayakan atas berbagai potensi yang dimiliki Institut Agama Islam Negeri Syekh Nurjati Cirebon, mempelajari kekuatan dan kelemahan, peluang dan tantangannya, serta kondisi-kondisi strategis Cirebon, bahkan Jawa Barat dan sekitarnya. Hasil kajian itu dituangkan dalam Proposal Pendirian Program Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri Syekh Nurjati Cirebon, selanjutnya disampaikan kepada Menteri Agama Republik Indonesia.

Selain itu, dalam rangka memenuhi tuntutan objektif terhadap kebutuhan pendidikan program pascasarjana (S-2) di kalangan dosen, guru, dan karyawan di wilayah II Cirebon, maka dijalin kerjasama dengan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Gunung Djati Bandung pada tahun 2001-2003, dan dengan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada tahun 2004-2005 untuk dapat menyelenggarakan perkuliahan program pascasarjana di kampus Institut Agama Islam Negeri Syekh Nurjati Cirebon. Akhirnya, ikhtiar panjang itu berbuah hasil, dengan lahirnya Keputusan Dirjen Kelembagaan Agama Islam Nomor 476 Tahun 2004 tanggal 28 Desember 2004 tentang Pendirian Program Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri Syekh Nurjati Cirebon.

Atas dasar keputusan itu, maka pada tahun akademik 2005/2006 Institut Agama Islam Negeri Syekh Nurjati Cirebon secara resmi mulai membuka Program Pascasarjana, dengan Program Studi Pendidikan Islam, konsentrasi Manajemen Pendidikan Islam, Psikologi Pendidikan Islam, Pendidikan Agama Islam dan pada tahun 2008 membuka program baru yaitu Program Studi Ekonomi Syariah, Hukum Perdata Islam (Ahwal Al-Syakhshiyah).

Hari ini berlangsung proses seleksi penerimaan beasiswa S2 untuk pengawas dan guru PAI yang diadakan di gedung Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Proses seleksi diikuti oleh 32 peserta dari 38 peserta yang terdaftar. Dari proses seleksi ini diharapkan dapat menyaring beberapa peserta yang layak untuk mendapatkan beasiswa S2.

Latar belakang peserta adalah para pengawas dan guru PAI dari berbagai wilayah, nampak dalam gambar peserta sedang menjalani tes wawancara yang diuji langsung oleh Direktur dan Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon, yaitu Prof. Dr.H. Jamali Sahrodi, M.Ag.

Hasil seleksi akan diumumkan kemudian melalui website Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon.

Director Message

 Assalamualaikum Wr. Wb.
Selamat datang di website Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon
semoga dengan adanya website resmi ini dapat membantu proses pelayanan
terhadap mahasiswa pada khususnya dan masyarakat pada umumnya sehingga
dapat tercipta komunikasi yang baik.